HAKIKAT PENDIDIKAN DIMASYARAKAT

HAKIKAT PENDIDIKAN DIMASYARAKAT

Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial, dan cultural. Pada skala mikro, pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas, seperti antara sesame sahabat, antara seorang guru dan satu atau sekelompok kecil siswanya, anatara suami istri dan anggota keluarganya, anatara orang tua dan anak. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang potensinya dan perangkat pembawaannya lebih baik dan lengkap. Manusia berkembang sebagai individu menjadi pribadi yang unik dan asli. Tidak ada manusia yang diharapkan mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya hampir serupa. Adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dan kebudayaannya secara progresif. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesame yang masing-masing bernilai setara. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain.
Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah, antar kecamatan, antar kota masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosiall, yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi berikutnya dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsung dengan baik dan bersama-sama. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi dua arah. Apabila dari sisi makro pendidikan meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya kemandirian oleh peserta didik, pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar kepada peserta didik dan bisa kehilangan cirri interaksi yang afektif.

Untuk Navigasi Lengkap Silahkan Kunjungi Peta Situs



Baca Juga:

Langganan Via Email
Copyright © | by: Me