FALSAFAH HIDUP

FALSAFAH HIDUP
Hidup
Setiap anak lahir ke dunia mencucut jarinya, tetapi bentuknya telah dapat dibedakan dengan anak yang lain. Tentu saja dengan otaknya yang menjadi pusatnya, didalam otaknya terdapat tidak kurang 180.000 juta sel halus yang yang tidak dapat dilihat satu per satu kalau tidak dengan mikroskop.
Kita bekerja keras terus menerus, tidak berhenti sejak kita dilahirkan, disudahi setelah kita mati. Padanya lah berdiri kehidupan. Kehidupan laksana tenunan yang bersambung menjadi kain. Sekalian makhluk dimuka bumi ini seakan-akan tidak kelihatan didalam tenunan ini, karena sangat kecil. Maka tenunan hayat yang kita lihat ini adalah ujungnya dari pada pangkal kain yang telah lalu, yang bersambung tiada putus, sejak dari awal yang tiada diketahui kapankah sampai kepada akhir yang belum diketahui.
Setelah waktu yang telah ditentukan dilalui, maka kehidupan itu pun berhenti pada suatu perhentian yang bernama ‘’al-maut’’, yaitu berhentinya perjalanan darah yang mengandung oksigen mengelilingi badan, bersamaan dengan itu sel yang kecil-kecil tadi pun berhenti perjalanannya dengan tidak diharap akan kembali lagi. Kematian itu datang tidaklah pula secepat kilat, tetapi berangsur-angsur, adakalanya seperti laksana sebuah negeri yang ditimpa kelaparan, penduduknya mati, tetapi tidak sekaligus, melainkan hanya yang lemah dahulu, berturut-turut sampai kepada yang lebih kuat menahan lapar. Rahasia kejadian itu ialah lantaran asas kehidupan memberi manusia bekal dengan beberapa alat yang perlu seperi udara, air, dan makanan untuk memelihara hidup. Itulah pendirian orang yang memerhatikan kehidupan manusia dari segi yang lahir. Mereka berpendapat manusia perlu makan, jika makan teratur pikirannya terbuka, bila makanan sehat akal bertambah. Kalau oksigen tidak bekerja membantu otak, buah pendapat akal yang waras tidak akan keluar.
Baru satu abad manusia menemukan bahwa manusia berasal dari pada ‘’telur putih’’ yang ada dalam air mani. Mani itu ada masa hidupnya dan matinya, sehingga sudah dapat ditentukan orang, bila masa ‘’menetas’’ yaitu terkumpul menjadi ‘’bekal anak’’ yang kemudian akan menjadi seorang laki-laki atau perempuan.

Akal untuk Manusia
Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi tuhan memberikannya kelebihan dengan akal. Kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan dan yang wajib dia tinggalkan.
Mengatur Kerja
Amat jarang orang yang memikirkan kepentingan mengatur atau merencanakan pekerjaan yang dihadapi sehingga kacau balau pekerjaan setiap hari. Hendaklah rancangan pekerjaan yang kita hadapi itu di sesuaikan dengan kondisi badan sendiri, selama kita memakai semboyan ‘’tidak melebih kekuatan diri, serta sudi menyesuaikan pekerjaan dengan apa yang cocok dengan tabiat kemanusiaan’’, maka selama itu pula kita wajib menjaga segala pekerjaan supaya sesuai dengan kekuatan’’. Pekerjaan hendaklah tidak berlawanan dengan kewajiban.
Apapun pekerjaan di dunia adalah bagus, berfaedah, karna masyarakat itu akan lemah dengan sendiri nya kalau sekira nya hati orang yang terpusat kepada satu tujuan saja.
Akal
Akal adalah ikatan, ibarat tali mengikat unta supaya tidak lari, akal itu mengikat mansuia supaya tidak lepas mengikuti hawa nafsu.
Ada juga yang mengatakan akal itu pendapat yang diusahakan yang menyebabkan manusia dapat mengatur pekrjaan nya dengan beren dan mengetahui akibat atau laba dan rugi nya.
Ilmu dan Akal
Ilmu itu di tuliskan dengan qalam, pena. Qalam adalah barang yang ama mulia dalam masyarakat manusia, yang diberi kehormatan oleh tuhan.
Suatu ilmu tidaklah lekat di dalam hati dan jiwa, tidaklah akan terpasang kepada diri kalo tidak di amalkan, di biasakan, dan dicobakan. Dengan percobaan dan pembiasaan itu dia bertambah teguh, tetap, dan kekal, membawa terbuka pula beberapa ilmu yang lain yang lebih dalam, lebih lezat, dan lebih menarik hati.
Akal dan Hawa
Akal dan hawa, dua kekuatan yang bertempur didalam diri kita, ahli Tasawuf  mempertalikan hawa dengan nafsu. Namun tidak semua nafsu itu tercela, ada nafsu ‘’Muthamainnah’’ nafsu yang tentram, dan nafsu ‘’Lawwamah’’ dan ‘’Ammaarah’’ inilah yang dipertalikan dengan hawa. Akal selalu menimbang antara baik dan buruk, lalu memilih mana yang baik. Sedang hawa dan nafsu , yang jahatlah yang dipilihnya. Akal selalu mengingat dan menahan, sedangkan hawa nafsu selalu ingin lepas. Akal membatasi kemerdekaan, hawa nafsu ingin merdeka didalam segala perkara.
Akal memikirkan kesukaannya dan kesukaan orang lain, timbang dan rasa, tetapi hawa nafsu hanya memikirkan yang enak untuk dia saja.
Perjuangan akal dan hawa nafsu
Dapat digambarkan perjuangan akal dan hawa nafsu iti dimedan peperangan hidup.
Jahil
Kejahilan adalah alamat bekunya perasaan dan lemahnya otak. ‘’ buta hati lantaran jahil, lebih berbahaya dari pada buta mata’’. Kejahilan terbagi atas dua garis yaitu, jahil yang tipis (basith), adalah lantaran diingatkan kekurangan akal dan pengalaman dan yang bersangkutan insaf kejahilannya, jahil yang begini kalau terlanjur mengerjakan kesalahan, lalu diingatkan , lekas mengubah, karena batinnya masih suci. Dan jahil yang tebal (murakkab) adalah yang tambah diberi ingat, bertambah juga jahilnya, jahil ini lebih berbahaya karena jahil tidak tahu bahwa dia jahil atau tidak mau tahu.
Keutamaan ilmu
Ilmu harus lebih dahulu dari amal, tetapi iman atau kepercayaan lebih tua pula dari ilmu, sebab iman menjadi dasar dari ilmu.
Hukum Alam
Hukum alam atau sunatullah ialah peraturan yang teguh dan tidak berubah lagi. Hukum yang tua, lebih tua dari segala hukum.
Maka timbulah pikiran budiman, bahwa jika alam yang luas dan cakrawala kita yang terbentang dihadapan mata siang dan malam, menjadi hukum yang telah tetap, niscaya manusia didalam hidupnya pun menjalani hukum alam yang telah tetap, hukum yang selamanya akan dijalani oleh manusia sejak dari masa dia datang ke dunia (lahir), sampai kepada masa meninggalkan dunia (wafat).
Keutamaan
Perasaan, tujuan, dan kesukaan manusia, serta cara mereka menegakkan keutamaan itu bermacam-macam.
Ada orang yang lebih tinggi kelasnya, dalam hidupnya semata-mata hanya kepentingan keluarganya, lain tidak.
Ada pula orang yang seluruh hidupnya dikorbankan untuk kepentingan umum, hingga lupa pada kepentingan dirinya.
Namun yang lebih utama adalah orang yang berpendirian, sederhana, dipikirkannya kepentingan kaum keluarganya dengan kepentingan kaum bangsa, dan masyarakat umumnya. Tumbuh rasa didalam hatinya bahwa sebagai orang hidup dia wajib berbuat baik kepada segenap yang bernyawa, manusia atau binatang dan dirinya sendiri.
Cinta
Cinta terbagi dua, sebagaimana cinta seseorang kepada sesama manusia, seperti cinta ayah dan ibu kepada anak, cinta suami kepada istri dan sebaliknya. Namun yang akan dibicarakan disini adalah cinta dalam rangka perangai utama, karena meskipun dibicarakan atau tidak namun ayah dan ibu tetaplah cinta kepada anaknya.tetapi cinta kepada orang banyak berkehendak kepada didikan dan perjuangan. Cinta yang dimasukkan kepada budi utama adalah memandang sesama manusia sebagai kecintaan yang perlu dibela. Cinta itu mengandung kejujuran dan amanah, sedang jujur dan amanah itu tiang pula dari keadilan. Kalau cinta telah tumbuh, maka mengandung dia akan hikmah, yaitu menuntun diri kepada kebenaran, dan mengandung pula akan keadilan, yaitu menunjukkan kebenaran itu kepada yang berhak menerimanya.
Kepercayaan
Kepercayaan hendaklah dipupuk dalam sanubari tiap-tiap anggota masyarakat itu yang dimulai dengan diri sendiri dan dikembangkan dalam masyarakat. Kepercayaan itulah kekuatan tempatnya bergantung didalam tiap perjuangannya, bahwa dia bukan kepunyaan dirinya seorang, tetapi kepunyaan bersama.
Kepercayaan itulah yang menghidupkan keutamaan, menjadikan seseorang budiman yang hidupnya boleh dinamakan hidup.
Apa yang membuat kita berbuat baik
Pendapat imam ghazali, ada 3 perkara yang mendorong berbuat baik:
Karena bujukan atau ancaman, orang yang ingin rahmatnya atau takut siksaannya
Mengharap pujian dan pada yang akan memuji, atau menakuti celaan dari pada yang akan mencela
Mengerjakan kebaikan karena memang dia baik, dan bercita-cita hendak menegakkan budi yang utama.
Apa yang menghambat kita mengerjakan  kebaikan
Halangan, sebab sakit, lapar, miskin, dan seumpamanya
Takhsir (kelalaian), tersebab 4 perkara;
Tidak dapat membedakan mana yang hak dan batil, obatnya belajar
Sudah tahu, tetapi tidak dibiasakan mengerjakan yang baik, sebab yang jahat itu baik juga
Disangka yang baik itu jahat, dan yang jahat itu baik
Didalam kejahilannya dan kerusakan didikan itu, hatinya busuk pula. Sebab mengerjakan yang baik itu sia-sia, dan jahat yang utama.
Persahabatan
Maksud persahabatan bukanlah hendak berkumpul-kumpul dan bercengkrama saja, untuk berenak-enak makan dan berpuas-puas minum. Bukan supaya berganti-ganti membayar makanan dikedai kopi, kalau hanya demikian sifat persahabatan, maka tukang-tukang copet, pencuri, bukan main erat persahabatannya. Maksud persahabatan ialah untuk sama-sama memperluas tujuan hidup, mendekatkan diantara satu jiwa dengan jiwa yang lain, yang telah terdapat kecocokan didalam satu perkara, sehingga   dapat didamaikan didalam perkara yang lain. Jika terdapat kesalahan pada seorang teman, dapatlah dilakukan teguran dan seorang sahabat yang setia.
Syarat untuk mengkekalkan persahabatan telah disusun oleh para budiman. Supaya persahabatan kekal dan lama usianya, sampai tulang hancur dikandung tanah, hendaklah diketahui, bahwa kita bersahabat dengan manusia, bukan dengan malaikat.
Mencari sahabat
Banyak perkara yang perlu kita nyatakan kepada orang lain, supaya dia turut berduka dengan kedukaan kita dan suka lantaran kesukaan kita, atau memberi nasihat dimana kekurangan dan menunjukkan jalan dimana buntu, maka tiap-tiap manusia merasa perlu mencari teman, mencari sahabat, tempat menumpahkan perasaan, untuk dihormatinya atau dicelanya, untuk dibantahnya atau disetujuinya.
Persahabatan dan perempuan
Satu diantara perangai khusus perempuan ialah tidak paham bahwa cinta adalah dalam lingkungan batin , dan persahabatan dalam lingkungan lahir. Dia tidak paham bahwa seorang laki-laki tidak dapat hidup menurut batin saja, tetapi dia lebih berhajat akan seorang teman dalam hidupnya di luaran, yang ada perhubungan pendapat, pertimbangan, akal pikiran, perjuangan, dan lain-lain yang tidak dapat dicampuri sedikitpun oleh perempuan atau oleh cinta. Namun hal itu sukar bagi perempuan memahaminya, dia tidak mau mengerti, sebab dia mau dengan cintanya itu suaminya terikat teguh, terbuhur mati, tidak lepas lagi keluar. Untuk urusan apapun dia ingin suaminya jangan terpisah dengan dia untuk selama-lamanya.

Untuk Navigasi Lengkap Silahkan Kunjungi Peta Situs



Baca Juga:

Langganan Via Email
Copyright © | by: Me