Kalau Ingin Sukses, Jangan Meng-kambinghitamkan Allah

Akhir-akhir ini saya sangat gelisah memikirkan kata-kata tersebut, "Kalau ingin sukses, jangan meng-kambinghitamkan Allah. Bertanggung jawablah dengan apa yang kamu pilih dan apa yang telah kamu lakukan".

Banyak dari kita yang sama sekali tidak menyadari akan hal itu, namun sering melakukannya. Begitu pula dengan saya. Disetiap waktu saat bertemu masalah dan kemudian saya menyerah. Tanpa sadar saya berkata, "Ini memang sudah takdir Allah dan sudah digariskan bahwa aku tidak akan bisa sukses seperti itu". Astaghfirullah..! Itulah pertanda saya telah meng-kambinghitamkan Allah.


Hanya untuk menutupi rasa kekecewaan dan sikap putus asa, dengan seenaknya saya mengambil kesimpulan bahwa semuanya ini terjadi akibat kehendak Allah. Lantas, mana tanggung jawab saya? Bukankah adalah sebuah pilihan untuk menjadi orang sukses? Bukankah dalam hati saya telah bertekad untuk memilih jalur hidup orang-orang sukses? Jika saat ini saya merasa "GAGAL" menjadi orang sukses sebelum terus mencoba, kenapa saya begitu mudahnya menyerah dan berkata, "bahwa semua ini adalah kehendak Allah dan saya ditakdirkan untuk tidak sukses".

Sungguh, saya sangat malu, malu terhadap Alexander Graham Bell, malu terhadap Einstein, malu terhadap Lakshmi Mittal, malu terhadap Bill Gates, malu terhadap Matt Mulenweg, malu terhadap Ibnu Sina, malu terhadap Umar ibn Khattab a.s, malu terhadap Dunia dan kepada semua Orang-Orang Sukses. Mereka semua juga sama seperti saya, menempuh kesuksesan dengan jalur yang rumit dan berliku, dan jalur tersebut juga tidaklah mudah. Namun mereka "tidak cepat menyerah dan meng-kambinghitamkan Allah ataupun Tuhan mereka" seperti yang saya lakukan saat ini. Sekali mencoba mereka memang gagal, dua kali gagal, hingga ribuan bahkan jutaan kali kegagalan menghantui mereka. Tapi dengan sikap "mantap", mereka mampu tetap bertahan di jalur kesuksesan. Apapun kendalanya, mereka akan tetap mempertanggungjawabkan jalur yang mereka pilih. Tekad mereka bahkan lebih keras dari baja.

Lantas, apa yang membuat saya begitu cepat meng-kambinghitamkan Allah?

Bukankah sudah difirmankan oleh Allah bahwa, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubah keadaan diri mereka sendiri", [QS. Ar-Ra'du: 11]

Dan juga telah dikatakan oleh Allah bahwa, "Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya." [QS. al-Mu'minuun: 62]

Dan Allah telah memerintahkan umatnya untuk tidak berputus asa, "Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. az-Zumar: 52-53]

Dalam beberapa kasus, seseorang bisa saja merasa bahwa ia telah melakukan segala cara yang memungkinkannya untuk keluar dari masalah, namun ia tidak melihat jalan keluar itu. Karena ia tidak ingat bahwa tetap ada kebaikan dalam peristiwa tersebut, ia memberontak dan marah. Hingga akhirnya putus asa.

Dan seperti itulah apa yang sedang saya alami. Maka, mulai saat ini saya ingin terus berusaha tanpa harus meng-kambinghitamkan Allah. Ingin terus mencoba karena ini adalah jalan yang saya pilih. Bantu doakan saya sobat :)

Untuk Navigasi Lengkap Silahkan Kunjungi Peta Situs



Baca Juga:

Langganan Via Email
Copyright © | by: Me