Motivasi dari Sahabat Baru

Menapaki jalan menuju ke arah mesjid aku berniat hendak sholat tarawih. Terdengar dari kejauhan takbir pertanda sholat isya telah dimulai, kemudian kupercepat jalanku. Segera ku bergabung mengikuti gerakan sholat imam mesjid ketika tiba disana.

Tak lama sholat pun usai, dalam jeda antara sholat isya dan terawih saya mendengarkan salam sapa dari General Manager perusahaan diatas mimbar, ahh.. membosankan. Harusnya ceramah yang kudengarkan, tapi ini adalah ucapan selamat berpuasa sebuah pesan pendek dari pimpinan perusahaan. Yah.. maklum, inilah salah satu kegiatan sholat tarawih bersama di kompleks perusahaan.

Sambil berharap-harap pimpinan perusahaan segera turun dari mimbar, tiba-tiba saja seseorang menyapa saya. Kemudian kami berkenalan. Seseorang itu bernama Wijaya. Tubuh tegap tinggi mencerminkan kepribadiannya. Sepertinya orang itu memiliki pandangan yang lebih dewasa dariku, sorot matanya tajam seperti orang yang memiki prinsip, begitu pikirku. Dan orangnya juga asyik. Akhirnya kami mengobrol berdua ngalor ngidul, mulai dari obrolan bisnislah kemudian tentang agama, semuanya nyambung, asyik banget.

Hingga kemudian ia bertanya padaku,

“Daniel, emangnya kamu sedang bisnis apa?”, katanya.

“Bisnis ngumpulin receh di internet”, jawabku.

“Mencukupi kebutuhan hidup kamu tidak?”.

Sontak saja aku kaget dengan pertanyaan seperti itu. Lantas aku jawab, “Tidak, hanya cukup untuk jajan saja. Karena aku masih hidup dengan orang tuaku yang bekerja di perusahaan disini (di komplek di perusahaan ditempat dimana aku sholat)”.

Lalu kupikir dia akan menasehatiku, ternyata tidak.

“Melihatmu saya rasa kamu punya visi yang jauh lebih besar daripada sekedar mengumpulkan receh”, katanya seperti itu.

“Hei, darimana kau tahu”, aku terkejut dengan tebakannya itu.

“Kamu suka bisnis, so pasti sudah lebih dahulu sadar bahwa tidaklah mungkin bisa sukses jika hanya sekedar mengumpulkan receh, kamu harus melakukan lebih daripada itu”.

“Iyaa, kamu benar. Saya punya visi dan ide besar. Tapi ada satu kendalanya, kendala yang sama selalu dipikirkan oleh setiap orang, yaitu modal”. Kataku seperti itu.

Kemudian dia memberikan contoh yang bijak untukku.

“Daniel, seandainya ada peti emas berada di atas gunung tertinggi namun untuk menggapainya kamu harus melewati jalanan yang terjal. Apakah akan kamu ambil emas itu?”

“Aku akan berusaha mengambilnya”, jawabku.

“Untuk naik gunung itu kamu harus menggunakan tali, sedangkan kamu tidak mempunyai tali. Terus bagaimana?”.

“Ahh gampang, pinjam tali aja”, jawabku enteng.

“Yang kamu katakan sama halnya seperti bisnis”, lagi-lagi ucapannya membuatku terkejut.

“Maksudnya?”, tanyaku kebingungan.

“Coba kamu bayangkan ketika dirimu sedang menjalankan bisnis kemudian kamu punya ide brilliant mendapatkan uang jutaan rupiah, berarti sama halnya seperti saat kamu melihat sebuah emas diatas gunung yang terjal”, katanya.

“Kamu tidak memiliki tali, kemudian kamu usahakan untuk meminjamnya. Nah, kalau tidak punya modal bagaimana?”. Tanyanya lagi.

“Tapi itu kan beda”, jawabku.

“Yang membedakan adalah keyakinan kamu, apakah kamu yakin diatas gunung itu ada emasnya atau tidak.”

Setelah itu pesan-pesan dari pak General Manager usai, aku hanya bisa terdiam lama merenungkan perkataan teman baruku itu. Saat sholat terawih dimulai pun aku masih tetap saja kepikiran hal yang sama, bikin sholatku gak khusyuk.

Dan aku akui, kata-kata sahabat baruku itu benar adanya.

Untuk Navigasi Lengkap Silahkan Kunjungi Peta Situs



Baca Juga:

Langganan Via Email
Copyright © | by: Me